Menjelang Akhir
Menjelang Akhir Camp PDF Print E-mail

Menjelang Akhir Camp, Peserta Climate Smart Leaders Beraksi

Di hari ketiga, untuk pertama kalinya dalam rangkaian CSL, peserta melakukan kunjungan lapangan. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Mengapa SMMA? Sejarahnya, SMMA merupakan cagar alam pada saat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1939, dengan luas awal 15,04 ha. Kemudian kawasan ini diperluas sehingga pada sekitar tahun 1960-an tercatat memiliki luas 1.344,62 ha. Dengan meningkatnya tekanan dan kerusakan lingkungan baik di dalam maupun di sekitar kawasan Muara Angke, sebagian wilayah cagar alam ini kemudian menjadi rusak. Sehingga, setelah 60 tahun menyandang status sebagai cagar alam, pada tahun 1998 Pemerintah mengubah status kawasan ini menjadi suaka margasatwa untuk merehabilitasinya dengan total luas 25,02 ha. Meski SMMA merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, namun peranannya cukup penting. Bahkan BirdLife International - salah satu organisasi pelestarian burung di dunia - memasukkan kawasan Muara Angke sebagai salah satu daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas) di Pulau Jawa.

 

Observasi burung, sampah di Kali Angke, dan tanaman mangrove (ki-ka)

Di SMMA peserta CSL melakukan observasi tentang keanekaragaman hayati yaitu untuk species burung dan tanaman mangrove dibantu oleh teman-teman fasilitator dari Jakarta Green Monster (JGM). Tidak hanya dua species tersebut yang ternyata menjadi perhatian peserta. Ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk menelusuri Kali Angke dengan menggunakan perahu, mereka mendapatkan kenyataan bahwa banyak sekali permasalahan yang terjadi di daerah Angke dan Jakarta pada umumnya, salah satunya adalah masalah sampah. Apresiasi pun diberikan kepada teman-teman yang bergerak di isu lingkungan hidup khususnya teman-teman dari  Jakarta Green Monster (JGM) yang berupaya keras untuk tetap melindungi dan melestarikan kawasan ini sebagai kawasan suaka margasatwa.

Setelah mendapatkan berbagai pengetahuan seputar spesies burung dan mangrove yang hidup di SMMA, peserta pun meneruskan perjalanannya ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK). Di sini mereka mendapatkan kesempatan untuk menanam mangrove sebagai cara untuk meng-offset emisi carbon yang telah mereka hasilkan dari proses perjalanan mereka dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pelatihan. Bagi kebanyakan peserta, menanam mangrove merupakan pengalaman pertama kali mereka. Sehingga antusiasme peserta untuk menanam 80 pohon mangrove merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Menanam bakau di Taman Wisata Alam Angke Kapuk

Selesai dari kawasan Muara Angke, mereka mengunjungi Green Radio 89.2 FM di Jalan Utan Kayu. Station Manager Green Radio, Nita Roshita, menerangkan bagaimana mengelola sebuah media yang berorientasi pada kelestarian dan konservasi lingkungan hidup. Ia berbagi pengalamannya tentang memenuhi keinginan pasar dengan tetap mempertahankan idealisme untuk melestarikan lingkungan dan mempromosikan green lifestyle. Anton, Faisol, Claudia dan Umar sebagai perwakilan dari peserta mendapatkan kesempatan untuk melakukan siaran langsung di dalam studio Green Radio dan menceritakan pengalaman mereka selama mengikuti CSL Camp dan projek mereka masing-masing.

Wawancara di studio Green Radio, Peserta bersama Staff Green Radio (ki-ka)

Malam harinya, para peserta bertemu dengan Yuyun Ismawati (Direktur Bali Fokus) dan Goris Mustaqim dalam sesi ”Meet The Kakaps”. Para pembicara ini menceritakan pengalam mereka sebagai social enterpreneur. Para peserta sangat terkesan dengan konsep social enterpreneurship yang memiliki tujuan utama memberdayakan masyarakat lokal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Peserta bersama Yuyun Ismawati dan Goris Mustaqim, Sesi dengan Inotek (ki-ka)

Keesokannya (Kamis, 8/7/2010), para peserta menjalani sesi tentang project management dan technopreneurship. Sesi project management dipandu oleh tim Yayasan Indonesia Lebih Baik (YILB). Sementara sesi tentang technopreneurship ini dipandu oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek). Di sesi ini peserta dibekali ilmu tentang pentingnya melakukan inovasi untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat.

Setelah melewati serangkaian pelatihan dan kunjungan lapangan selama empat hari, pada hari Jumat (9/7/2010) para peserta menghadapi proses penjurian. Mereka diberikan kesempatan untuk mempresentasikan project mereka dihadapan dewan juri. Untuk kategori I (usia 15-18 tahun) yang menjadi Dewan Juri adalah Prof. Ani Mardiastuti (IPB) dan Brigitta Isworo Laksmi (Harian Kompas). Sementara Dewan Juri untuk Kategori II (usia 19-24 tahun) adalah Dr. Asclepias Rachmi (Indonesian Institute for Energy Economy) dan Sandiaga Uno (yang diwakili oleh Andy Pradjaputra dari Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia). Namun selain menjalani penjurian, mereka juga mendapatkan sebuah kejutan. Prof. Emil Salim (Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI / Ketua Dewan Pembina YPB) hadir untuk melihat dan memberikan masukan bagi project para peserta. Pak Emil Salim juga sempat memberikan sedikit wejangan kepada para peserta bahwa dengan semangat dan inovasi yang telah dihasilkan oleh para peserta CSL beliau positif bahwa Indonesia akan maju dan para peserta dapat mengguncangkan dunia dengan dampak positif yang mereka berikan.

 

Presentasi project peserta, Peserta bersama Prof. Emil Salim (arah jarum jam)

Hari itu diakhiri dengan malam penutupan CSL Camp yang juga dihadiri oleh Ibu Darwina Widjajanti. Pada malam penutupan ini, tiap kelompok mempresentasikan sebuah persembahan kesenian yang ditujukan untuk panitia dan peserta lainnya.  Ada beberapa kelompok yang bernyanyi dan ada juga yang bermain teater. Suasana haru biru pun mulai terasa ketika sesi testimoni digelar. Para peserta merasa bersyukur telah mendapatkan pengalaman yang berharga dan sebuah keluarga baru. Mereka semakin bersemangat untuk mengembangkan dan mengimplementasikan project-project mereka dengan bekal ilmu yang didapat di CSL Camp. Mereka berharap agar program CSL akan terus berkembang di tahun-tahun berikutnya dan terus melahirkan para pemimpin-pemimpin muda yang mampu mendatangkan perubahan. Climate-Smart Leaders: TAKE ACTION!

Penampilan  peserta, Ibu Darwina menutup CSL Camp (ki-ka)

 
Share

CSL merupakan program :

YPBEarth Charter

YILB

Didukung oleh :

  • BNI
  • ANCOL
  • HANDSPRINT
  • KOMPAS
  • GI
  • DAAITV
  • IP
Copyright © 2010 - Climate Smart Leaders. Developed by Cora Media Interaktive and Ramot Stephanus
This website is optimized for IE7+, Firefox 3 & Chrome 4.