| Profil Peserta Program Climate-Smart Leaders |
|
|
|
|
Setelah terkumpul lebih dari 200 aplikasi dan melalui dua kali tahap penjurian, inilah Profil 24 finalis Climate Smart Leaders bersama project mereka:
Kategori I (15-18 tahun)
Abdullah Azzam Al-Afghani
Bagaimana murid SMA, petani, dan warga perumahan di Kec. Kemang, Bogor, Jawa Barat dapat bekerja sama? Menurut Abdullah Azzam Al-Afghani dan kedua kawannya, jawabannya adalah proyek FROM TRASH TO TRASHION AND TRASHGANIC. Pertama, warga perumahan dan perkampungan sekitar diberi penyuluhan mengenai jenis sampah dan memilahnya, sehingga didapat sampah organik dan anorganik oleh murid-murid Smart Ekselensia, sekolah asrama yang muridnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian para murid melakukan dua hal: mencacah sampah organik dengan alat dari sepeda bekas yang dimodifikasi dan mengubahnya menjadi kompos, yang kemudian disediakan bagi petani hortikultural setempat. Sementara sampah anorganik akan disulap oleh murid-murid berketerampilan menjadi perlengkapan sekolah, tas, jas hujan dan sebagainya, yang juga dapat melatih kewirausahaan . Tentunya dengan proyek ini, terjalin hubungan saling untung bagi banyak pihak dan sampah mendapat makna baru yang lebih bermanfaat bagi semua. Ayah dan ibunya adalah pedagang, sementara kakeknya adalah seorang petani. Pendidikan usia dini dan dasar ia tempuh Solo. Memasuki jenjang pendidikan SMP dan SMA, ia mendapatkan beasiswa penuh disebuah sekolah swasta bernama SMART Ekselensia di Bogor.
Bagus Aditya Susanto
Tahukah Anda bahwa cat tembok sintesis mengandung banyak zat yang berbahaya baik bagi lingkungan ataupun kesehatan, seperti halnya timbal, merkuri, dan senyawa organik asiri (VOC)? Tidak hanya Gerakan Cat Tembok Alami yang diprakarsai Bagus Aditya Susanto beserta komunitas NAPAIN (Natural Paint) mengajak masyarakat menggunakan cat alami, mereka juga menyosialisasikan isu-isu lingkungan dan melakukan penghijauan di Lahan NANKADA (Nanggur Kanggo Ndandani/Menanam untuk Mengembalikan) di desa-desa Kecamatan Wringinanom. Di lahan tersebut akan ditanam tumbuhan dengan zat pewarna alami (pandan, duwet dan sebagainya), di mana zat nantinya akan diolah menjadi cat dan ditambahkan aromaterapi atau antinyamuk. Diharapkan nantinya setiap desa akan memiliki lahan NANKADA serta memproduksi cat alami sendiri, sehingga menurut Bagus yang juga adalah anggota aktif OSIS, Karang Taruna, Laskar D’RIWA, dan Hutan Tani Bantaran ini, proyek ini dapat menyehatkan rumah serta penghuninya, melakukan penghijauan sekaligus mengembangkan potensi alam, dan yang terpenting mengembangkan ekonomi masyarakat desa. Bagus saat ini duduk di kelas X dan akan naik ke kelas XI di SMAN 1 Wringinanom Gresik. Dalam hidup, Bagus mempunyai sebuah motto “Menjadi Berhasil Itu Tidak Perlu Susah, Hanya Perlu Percaya Dan Yakin Dalam Menjalankannya”.
Bella Yuliatin Puspitasari
Think globally, act locally . Artinya, kita harus memulai dari komunitas sendiri untuk mengubah dunia. Bersama dengan timnya, Bella Yuliatin Puspitasari mengusung project yang berjudul Organisasi Pengelolaan Sampah Organik (OPSO). Tujuan utama dari project OPSO adalah ingin menjadikan Indonesia kembali menjadi paru-paru dunia dan mengurangi jumlah pengangguran. Lokasi yang akan dijadikan pusat kegiatan OPSO adalah di Kelurahan Tanjung Laut dan Perumahan PT Pupuk Kaltim di Bontang, Kaltim. Inti proyeknya tidak sulit, namun memerlukan dedikasi tinggi: memilah sampah organik dan anorganik lalu kemudian membuat kompos dari sampah tersebut. Namun, walaupun project OPSO ini sederhana, tetapi dalam pelaksanaannya Bella dan tim mengharapkan seoptimal mungkin. Dengan bekerjasama dengan instansi-instansi terkait, mereka berharap dapat mencapai tujuan utamanya, dan dapat menghasilkan manfaat-manfaat positif bagi alam, maupun manusia. Menurut anggota ROHIS yang jago public speaking ini, melalui OPSO warga akan mengerti pentingnya peduli dengan sampah dan dengan mandiri dapat mengolah sampah tersebut, menciptakan lapangan kerja baru. Juga dengan berkurangnya sampah, banjir dan polusi yang disebabkan akan terhindarkan, dan kompos yang dihasilkan akan menyuburkan tanah. Dengan demikian, bumi dapat terselamatkan dari pemanasan global, dimulai dari komunitas sekitar.
Bimantara Adi Withaka
Industri makanan, industri kertas, dan orang utan akan senang mengetahui ini: derajat kulit pisang sebagai alat pelesetan ternyata dapat diangkat. Bagaimana caranya? Melalui proyek Banana Paper karya Bimantara Adi Withaka . Tetapi mengapa kulit pisang? Si manis kuning ini subur tumbuh di kawasan tropis dan amat disukai orang—bahkan tidak sedikit industri makanan yang mengolah pisang menjadi kue-kue sehingga menghasilkan banyak limbah kulit, dan ternyata kandungan selulosa dikulitnya berpotensi dijadikan alternatif pulp kertas. Dengan demikian, pemenang Chemistry Web Design 2009 ini berharap dapat menghentikan deforestasi yang dilakukan industri kertas, yang akan berimbas pada lestarinya hutan beserta segala dampak positifnya, termasuk mengurangi jumlah karbon penggerak perubahan iklim, terjaganya rumah penghuni hutan, juga sehatnya paru-paru kita. Bimantara sendiri adalah siswa kelas XII IPA di SMA YPPI – 1 Surabaya. Dari sekolah yang memiliki tiga landasan dasar - yaitu Character Building, IT , dan Environment - inilah yang membuat dirinya dapat mengikuti program CSL ini. Dari pengetahuan tentang lingkungan yang ia dapat melalui berbagai program, serta informasi dari IT sangat mudah untuk diperoleh, memberikannya suatu ide. Ide tersebut adalah pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi kertas. Meskipun beberapa orang masih meragukannya, namun ia yakin bahwa dirinya dapat menyelesaikan proyek banana paper ini.
Claudia Von Nasution
Sambutlah Kepulauan Seribu sebagai tujuan ekowisata baru Anda! Claudia von Nasution atau yang biasanya dipanggil Odiee, beserta kawan-kawan yang tergabung dalam AMIGO TOUR hendak Membuka Keindahan Ekowisata di Gugusan Seberang Jakarta . Misi gadis jurnalis yang bergabung dalam Teens Go Green ini adalah mendidik baik warga Jakarta dan setempat untuk mengenal ekosistem dan peduli lingkungan, serta memopulerkan konsep ekowisata di Kepulauan Seribu yang selama ini dianggap eksklusif dan kurang beken. Ditujukan terutama kepada remaja, aktivitas yang ditawarkan mencakup snorkeling , pelepasan penyu, adopsi terumbu karang, dan penanaman pohon bakau, bekerja sama dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu dan usaha wisata lokal. Yang jelas, proyek ini membuka kesempatan bagi khalayak luas untuk bisa bersenang-senang, belajar di alam, sekaligus mendukung rehabilitasi alam di saat yang sama. Siapa tahu, ekoturisme ini akan menjadi tren baru bagi remaja perkotaan. Odiee sendiri tergolong aktif sejak masuk SMAN 68. Banyak ekstrakulikuler yang diikutinya. Diantaranya, JGC ( Jakarta Green Club ) 68, dimana dirinya didaulat sebagai ketua. Di luar sekolah, Odiee sempat magang di Kompas Muda. Tergabung dalam Teens Go Green (TGG) membuat perhatiannya terhadap lingkungan terus bertambah dan tentunya memperluas jejaring social. Konsekuensinya memang membuat dirinya sibuk dan capek, tapi terasa “hidup”!
Galuh Dea Urfani
Gerakan Mengurangi Perambahan Hutan dengan Green Business Sampah Anorganik dan Reduksi Sampah sebagai Tawaran Solusi Ketahanan Hutan/ Biodiversity dan Mitigasi Pemanasan Global Berdasarkan Motif Perambah Kawasan Nasional Kutai (TNK) adalah judul proyek yang diajukan Galuh Dea Urfani bersama kedua kawannya, yang pada intinya adalah mengubah perambah hutan menjadi pendaur ulang. Bermula dari keprihatinan mereka atas banyak warga yang terpaksa merambah hutan atas tuntutan ekonomi, mereka memiliki gagasan untuk mendidik dan melatih mereka agar beralih profesi, dengan membuka usaha mendaur ulang sampah hasil permukiman setempat menjadi emas nan kreatif: tas, map, notebook cover , dan sebagainya. Menurut Galuh yang juga adalah juara lomba karya ilmiah tingkat provinsi dan nasional ini, manfaatnya pun berlipat: dari segi green business , lapangan kerja baru yang sehat terciptakan; sementara di sisi lingkungan, baik limbah sampah dan polusinya akan berkurang, serta hutan TNK akan menjadi asri lestari tanpa dirambah. Inilah solusi climate-smart yang menciptakan harmoni. Galuh sendiri merupakan siswa kelas 12 jurusan IPA, SMA swasta Yayasan Pupuk Kaltim Bontang . Ia tinggal bersama kedua orangtua beserta dua adik laki-lakinya. Oleh karena dalam menjalani kehidupan sehari- hari sebagai siswa jurusan IPA, ia sangat merasa dekat dengan ilmu alam dan timbul rasa untuk menjaga dan mencintai alam dalam dirinya. Selain itu, Galuh aktif dalam penulisan karya ilmiah bersama timnya dan menjuarai di beberapa kompetensi. Selain bangga dalam memperoleh prestasi, ia juga bangga menjadi remaja sebagai generasi muda yang peduli akan lingkungan sekitar, hingga sebagai generasi muda, ia akan memikirkan dan melakukan tindakan yang tepat dalam kemajuan bangsa ini.
Dewimaya Puspitasari
Siapa lagi guru yang lebih baik dalam menjelaskan tentang perubahan iklim kepada pelajar SMA, selain pelajar SMA itu sendiri? Kira-kira itulah prinsip Greentopia in Action dari Dewimaya Puspitasari bersama rekan-rekan di SMAN 1 Bekasi. Bukan semata memiliki blog sendiri ( www.thegreentopia.blogspot.com ) yang menghadirkan berita atau artikel seputar lingkungan dan aktivitas sendiri, Greentopia telah mengunjungi tempat-tempat penyumbang efek perubahan iklim seperti TPA Bantar Gebang, dan membuat Takakura sendiri. Menurut Dewi yang aktif di OSIS, PMR, Karang Taruna dan juga adalah finalis langganan berbagai lomba, Greentopia juga berencana mengadakan sosialisasi dan seminar perubahan iklim beserta dampaknya tentunya secara menarik serta interaktif ke pelajar SMA dan sederajat di Jakarta dan Bekasi, mengembangkan peneliian terkait, dan menanam tanaman obat keluarga (TOGA). Harapan komunitas ini adalah membekali pengetahuan dan kepedulian terhadap perubahan iklim berikut menjadi contoh positif kepada remaja SMA Jakarta, Bekasi, dan seluruh lapisan masyarakat.
Fahmi Dinni
Walau baru lulus SMA, Fahmi Dinni atau biasa dipanggil Ami, sudah menyimpan segudang pengalaman dari keanggotaannya di banyak organisasi seperti OSIS, Komunitas Cangkul Hejo, Climate's Friend C3, juga penggagas eksul lingkungan ELOC13 di sekolahnya sendiri. Ami beserta timnya mengusung project MeMo – Message of Movement, sebuah gerakan Kampanye Lingkungan Kreatif Berbasis Komunitas Anak Muda, yang menampilkan model nyata khususnya bagi generasi muda sebagai pelaku perubahan, dan dapat menjadi contoh teladan bagi masyarakat. Ami berani membuktikan bahwa media bukan berupa kata-kata, tetapi aksi nyata: lewat rencana penyebaran informasi lingkungan melalui pemasaran produk herbal, pelatihan lingkungan hidup gratis bagi SD yang kekurangan, maupun di blog maupun facebook sambil bekerja sama dengan banyak komunitas. Anak muda yang mempunyai hobi menulis ini, mengajak 11 temannya sebagai anggota tim dan bekerjasama dengan Nurfaidah Herbal, Climate Change Center dan Drs.H.M. Djumhana, SH (guru PLH SMAN 13 Bandung) dalam menjalankan MeMo Project's. Juga dalam pengembangan proyeknya tersebut, mendapat pembelajaran dari Young Changemakers, Ashoka Indonesia. M eski dukungan CSL belum diberikan, Ami beserta timnya telah aktif memulai proyek MeMo pada bulan Mei—benar bukan, media bukan hanya kata-kata?
Muhammad Faisol Tanjung
Tidak sedikit pasar yang identik dengan sampahnya yang tumpah membeludak ke jalan, berbau tajam, dan menebar penyakit serta polusi. Jika tidak dibiarkan menumpuk begitu saja, sampah tersebut akan dibakar, menghasilkan asap yang sama beracunnya. Tetapi upaya Pengelolaan Sampah Dapur/Organik dari Pasar Sawojajar dan Sekolah Menjadi Pupuk Kompos Ramah Lingkungan yang dilakukan Muhammad Faisol Tanjung (akrab dipanggil Faisol) dan kawan-kawannya bertekad mengubah hal tersebut. Selain membagikan bak sampah dan mengolah limbah menjadi kompos yang akan dijual, akan diselenggarakan pelatihan kepada masyarakat sekitar agar dapat mengolah sampah dapur secara mandiri. Menurut Kepala Bagian Pengolahan Kompos dari Green Earth Community Malang ini, proyek tersebut telah berjalan selama setahun dan ternyata mampu mengurangi 75% jumlah sampah, walau masih tersendat kendala modal, fasilitas, dan sebagainya. Meski demikian, semangat dan jiwa kepemimpinan murid-murid ini tetap tak tergoyahkan, dan patut menjadi panutan. Saat ini Faisol menempuh pendidikan di SMA Negeri 10 Malang dan tinggal di asrama sekolah. Di SMA Negeri 10 Malang inilah ia bergabung dengan ektrakurikuler GEC (Green Earth Community) yang telah mengajarkannya untuk mengolah kompos. Dari sini ia mengawali proyek CSL (Climate-smart Leaders)-nya tentang pengolahan sampah dapur/organik dari Pasar Sawojajar dan sekolah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan. Proyek ini ia lakukan bersama tim kompos SMA Negeri 10 Malang yaitu M. Sony Fahrizal dan Ricky Sudiarto Putra. Dan proyek pembuatan kompos ini sudah berjalan ±1 tahun.
Raras Ayusyalita
Selama ini yang banyak kita kenal dari ketela pohon hanya ubi atau daunnya saja, tetapi Styrofoam “Eco-Friendly” dari Gabus Ketela Pohon (Manihot utilisma ) yang merupakan proyek Raras Ayusyalita dan kelompoknya mengenalkan manfaat baru dari batang ketela. Raras selalu berusaha agar dapat melakukan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi banyak orang, terutama masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya bermanfaat bagi lingkungan. Dirinya menyadari bahwa kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat yang kian meningkat sebanding dengan peningkatan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, Raras dan timnya mencoba untuk membuat suatu wadah yang mudah diproduksi dan aman baik bagi masyarakat maupun lingkungan sebagai penganti Styrofoam, yang disebut dengan felofoam yang terbuat dari gabus dan pati ketela pohon. Styrofoam yang marak digunakan kini adalah jenis sintetis yang beracun bagi makhluk hidup dan merusak lingkungan, terlebih lagi melepaskan puluhan zat berbahaya ke udara. Sebaliknya, Styrofoam ketela ramah lingkungan dan mudah diuraikan secara alami, sehingga menjadi alternatif yang tepat bagi industri makanan skala besar maupun kecil. Dengan demikian, petani singkong pun berpenghasilan lebih, produsen Styrofoam serta pedagang menjadi ramah lingkungan, dan konsumen lebih sehat. Memang, pohon yang satu ini walau tampak biasa ternyata banyak manfaatnya. Raras dan kawan-kawan sendiri tak asing mengikuti olimpiade sains dan bahkan pernah menjadi finalis International Science Project Olympiad (ISPO) di Jakarta. Raras juga aktif di Organisasi Pecinta Alam yang bernama SIPEAS, Tim Olimpiade Biologi, Karya Ilmiah Remaja dan seni bela diri Kempo di sekolahnya. Beberapa prestasi yang ia raih, diantara yang adalah juara III English Contest se Jawa Tengah ketika duduk di bangku SMP.
Sumarlina
Jika sungai sehat, capung pun sehat. Karena itulah capung dapat dikatakan sebagai indikator kesehatan sungai. Sayangnya, tidak sedikit sungai yang tercemar oleh limbah rumah tangga, industri, dan penangkapan ikan, sehingga menjadi salah satu penyumbang karbon yang berdampak pada pemanasan global. Ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya sungai. Maka, tujuan proyek Dokter Sungai: Capung Indikator Kesehatan Sungai dari Sumarlina adalah mendidik serta melatih masyarakat mengenai pemanasan global dan kesehatan sungai agar mereka dapat menjadi “dokter” bagi sungai-sungai setempat, dengan cara memantau capung—hewan yang rentan pada perubahan suhu dan hanya terdapat banyak di udara dan air yang sehat. Bila sungai tidak sehat, mereka pun sadar dan dapat mengobatinya dengan menghentikan pencemaran sungai. Para dokter nantinya juga dapat bertukar informasi mengenai kondisi sungai masing-masing di klinik daring. Hasilnya, tidak hanya lingkungan lebih sehat dan terpantau, masyarakat pun lebih sehat dan peduli, dan capung pun punya rumah yang sehat. Sumarlina juga adalah Ashoka Young Changemaker 2009 dengan mengusung project Sensus Serangga Air untuk Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pelestarian Sungai. Ia t elah mengembangkan modul baru sensus serangga air hasil adaptasi dari modul LSM Ecoton, sehingga lebih mudah dimengerti oleh teman-teman sebaya. Sumarlina dan tim juga berhasil mengajak ratusan teman sebaya dari berbagai sekolah di Gresik untuk melakukan sensus serangga air, memahami permasalahan dan fenomena kali di Gresik.
Umar Abdur Rozak Saifurrahman
Sampah biasanya tidak bersinonim dengan seni. Minat musik tak berhubungan dengan peduli lingkungan. Tetapi di mata—atau tepatnya telinga— Abdur Rozak dan sohib-sohibnya, tidak ada yang salah dengan Pemanfaatan Sampah Anorganik Menjadi TRASHIC (Trash Music ) . Tergerak dari jarangnya ditemukan musik maupun alatnya yang murah dan berkualitas, mereka menggali kreativitas dengan menjadikan botol, plastik, kaleng, bahkan ember bekas sebagai alat musik—dengan begitu pun mereka dapat mengurangi jumlah sampah anorganik yang merugikan lingkungan. Sebagai pencetus sekaligus pemusik TRASHIC , mereka bertujuan melakukan roadshow dan kampanye musik murah peduli lingkungan di Depok dan Bogor sebagai wahana alternatif untuk berekspresi dan berkreasi bagi generasi muda bangsa.
Kategori II (19-24 tahun)
Adi Trimulyo
Bio-Surya (Subur dan Bercahaya): Replikasi Desa “Subur dan Mandiri Energi” Melalui Pengolahan Limbah Salak Pondoh Menjadi Pupuk Organik dan Bioethanol adalah proyek yang diterapkan Adi Trimulyo dan tim di Desa Bangunkerto di Sleman, Yogyakarta yang menghasilkan sekitar 47 ribu kg salak pondoh tiap bulannya. Dari jumlah tersebut sekitar 900 kg limbah turut dihasilkan. Namun sebenarnya limbah salak berpotensi dijadikan bioethanol, campuran bensin yang dapat menekan polusi hasil pembakaran sehingga menjadikan bensin lebih ramah lingkungan, dan dapat juga digunakan sebagai bahan bakar kompor oleh petani. Di samping itu, perkebunan salak tersebut memerlukan 70 ton pupuk/tahun tiap 20 hektar, sehingga menyedot biaya puluhan juta dari petani. Untungnya, limbah salak hasil fermentasi etanol dapat difermentasikan menjadi pupuk, dengan tambahan kotoran sapi dan bioaktivator bakteria, di mana polusi gas dari pupuk kotoran sapi dapat dicegah, dan pupuknya dapat digunakan langsung. Nilai lebihnya adalah semua proses ini tidak memakan biaya besar dan dapat dioperasikan oleh petani sendiri cukup dengan manual, sehinggadi samping menghasilkan produk yang dapat dijual petani dapat lebih mandiri dengan usaha yang berkelanjutan. Saat ini Adi sedang melakukan penelitian tugas akhir dan menyusun skripsi. Selain itu, ia mencoba mengasah kemampuan akademis melalui lomba karya tulis/ lomba karya cipta produk. Beberapa produk yang pernah ia ciptakan antara lain: pupuk dan pestisida organik, bioethanol, biogas, pakan ternak, pakan ikan dan kecap. Adi memiliki impian besar yaitu mensejahterakan masyarakat Indonesia di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Community development berbasis Socio Tecnhopreneurship adalah bidang yang ia geluti.
Anton Kuswoyo
Meski dilanda krisis energi, Indonesia sebagai negara yang berlimpah sumber daya alam memiliki potensi raksasa dalam mengembangkan pembangkit listrik alternatif, salah satunya berupa Pembuatan Pembangkit Listrik GeoPower dengan Memanfaatkan Air dan Tanah Gambut Berdasarkan Prinsip Galvani dengan Variasi Elektroda sebagai Solusi Masalah Lingkungan dan Krisis Energi yang dicetuskan oleh Anton Kuswoyo . Di ratusan ribu hektar lahan gambut di Kalimantan, terdapat kandungan yang asam serta kation basa. Dengan kandungan tersebut, jika dicelupkan di dalamnya dua lempengan logam (elektroda) berbeda jenis (seng dan tembaga) dan dihubungkan, dapat diciptakan listrik lewat reaksi reduksi-oksidasi. Inilah yang disebut sel Galvani atau Volta yang dapat ditemukan dalam baterai biasa. Listrik dari lahan gambut ini akan diperbesar voltasenya dengan penggandaan jumlah rangkaian dan penggunaan inverter. Pembangkit ini pun dapat dibuat untuk skala rumah tangga ataupun permanen di lahan gambut. Selain memanfaatkan sumber daya alam setempat dan mengurangi ketergantungan pada listrik PLN, kelebihannya tentu saja lebih murah, ramah lingkungan, dan terbarukan. Mahasiswa fisika FMIPA Unlam yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, jurnalistik dan penelitian ilmuah. Hingga kini, selain menjadi mahasiswa Fisika, Anton juga aktif sebagai asisten dosen untuk mata kuliah dan praktikum. Pernah melakukan penelitian ilmiah bersama dosennya di berbagai daerah, Balangan, Asam-Asam, Sungai Danau, Pelaihari dan Kotabaru, tentang Geolistrik dan air tanah. Anton juga pernah aktif di organisasi kampus menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) periode 2008-2009, dan Koordinator Departemen Pengembangan Jaringan dan Media Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA periode 2009-2010 dan sekarang menjabat sebagai Menteri Pengabdian Masyarakat BEM Unlam. Sejak Pebruari 2009 dirinya aktif menulis artikel dan opini di Harian Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Mata Banua dan Kompasiana.
Claudia Windasari Wijaya
Udang adalah komoditas penting di Indonesia: menurut perkiraan potensi udang dapat mencapai satu juta ton pada tahun 2010. Tetapi, mengonsumsi udang sering dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol, padahal di limbah udang yang berupa kulit, kepala, dan ekor, terdapat zat khitin dan khitosan yang justru dapat menurunkan kadar lemak. Oleh karena itulah Claudia Windasari Wijaya dan tim menggagaskan Pemanfaatan Limbah Udang Sebagai Obat Alternatif Hiperlipidemia dalam Bentuk Tablet . Limbah udang yang kebetulan banyak terdapat di daerah Tuban dan Surabaya dapat mencapai berat ratusan ton, serta tentunya memiliki dampak negatif pada lingkungan dan bahkan perubahan iklim. Sementara hiperlipidemia sendiri adalah penyakit kelainan kadar lemak dalam darah yang dapat berujung pada penyakit mematikan seperti aterosklerosis, stroke, dan jantung koroner, dan gaya hidup tak sehat dapat memicu kondisi ini. Menurut Claudia yang juga adalah juara Lomba Program Kreativitas Maha Gagasan Tertulis dengan penelitiannya di bidang farmasi, bila menggunakan limbah udang sebagai alternatif bahan, industri farmasi dapat memproduksi obat ini dengan efektif dan ekonomis. Tentu saja dengan demikian penderita membelinya dengan harga lebih murah. Inilah suatu cara yang dapat menyehatkan baik lingkungan maupun manusia. Claudia sendiri sangat tertarik pada kegiatan berorganisasi dan penelitian ilmiah yang dapat mengembangkan kreatifitas dan penuh inovasi. Baginya setiap hal dalam hidup adalah sebuah pembelajaran dan tidak boleh mudah menyerah dalam menghadapi apapun juga. Moto hidup Claudia adalah “Kebahagiaan bukan hanya ketika kita mendapatkan kebahagiaan tetapi bagaimana orang lain bahagia karena kehidupan kita”.
Dian Prayogi Susanto
Dian Prayogi Susanto , mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, menyadari dua permasalahan yang menjangkit banyak kota-kota besar: 1) jumlah kendaraan, khususnya sepeda motor, yang meningkat dan 2) polusi yang disebabkan hal tersebut. Solusinya: Smart Exhaust , knalpot cerdik yang dapat mengurangi secara signifikan konsentrasi gas beracun (CO x dan NO x ) dari asap motor, namun terbuat dari bahan-bahan yang murah dan mudah ditemukan. Dari segi bisnis, proyek ini pun cakupannya luas dan tak sulit dirakit serta dikembangkan. Inovasi peneliti nan aktif ini adalah contoh baik teknologi tepat guna yang dapat membantu pihak baik industri transportasi dan bisnis serta menjadi solusi atas pemanasan global lewat reduksi emisi gas rumah kaca.
Fanni Fatah
KOMPOS SOLAR WOOD GAS (KOMPOR BERBAHAN BAKAR SINAR MATAHARI DAN LIMBAH ORGANIK) menggunakan tidak satu tetapi dua pemanfaatan energi alternatif. Inovasi kompor hibrida karya Fanni Fatah membakar limbah organik (potongan ranting, batok kelapa) dengan teori gasifikasi menjadi api kompor dengan pembakaran efisien yang minim asap, menjadikannya kompor “sehat”. Kemudian, untuk menanggulangi waktu pemanasan yang lama serta ketergantungan limbah, kompor berbentuk kotak tersebut dilengkapi dengan cermin untuk memfokuskan panas sinar matahari ke kompor dan mempercepat proses masak. Tentu saja, hasilnya adalah kompor yang penggunaannya murah secara jangka lama karena tidak bergantung pada gas LPG yang mahal terbatas ataupun kayu. Menurut Fanni Fatah, yang amat aktif dalam kegiatan debat bahasa Inggris dan adalah finalis Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan ini, dampak lingkungan terbesar dari kompor ini adalah mengurangi emisi asap dan penebangan hutan akibat penggunaan tungku kayu bakar. Meski tidak dapat sepenuhnya mengganti penggunaan kompor migas, kompor ini portabel sehingga juga cocok untuk daerah terpencil dan pascabencana, menjadikan masyarakat yang kesulitan memasak menjadi lebih mandiri.
Firman Baihaki
Efisiensi energi, waktu, dan kenyamanan adalah hal nyaris mustahil bagi pengguna di jalan-jalan kota raya yang kerap macet. Sayangnya, lampu lalu lintas tidak cukup mengatasinya—tetapi dengan Smart Traffic System, Inovasi Alat Pengatur Lalu Lintas Berbasis Kamera IP —kepadatan kendaraan dapat dihindarkan sesuai kondisi masing-masing persimpangan, demikian ide dari tim maha Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung yang diketuai Firman Baihaki . Bekerja sama dengan PT Telepico dan menggunakan komponen yang minim jumlahnya, kamera-kamera lalu lintas ini dapat menjadikan hal mustahil tersebut mungkin, dan juga mereduksi polusi udara, suara, serta pemborosan BBM yang penting dampaknya bagi lingkungan. Firman sendiri, selain pernah memenangkan sederet kejuaraan, juga tak asing menerima dana bantuan dan bea untuk riset teknologi dan kewirausahaan.
Muhammad Noor Rokhmat
Kini telah diketahui bahwa sektor peternakan menyumbang jumlah GRK yang signifikan dalam meningkatkan pemanasan global, salah satunya akibat gas metan dan nitrogen dari sapi, namun sayangnya kebutuhan manusia untuk mengonsumsi protein tidak dapat diubah. Karena itulah Muhammad Noor Rokhmat beserta timnya mengajukan ide Agribisnis Peternakan Hijau dengan Sistem Feedlot yang Ramah Lingkungan , sebuah bisnis berkesinambungan antara peternak dan perusahaan teh . Selama hampir setahun timnya melaksanakan penelitian di mana sapi diberi makan dengan ampas teh yang dihasilkan dalam jumlah ton tiap minggunya dari PT. Sinar Sosro setempat. Selain murah dan selalu ada, nutrisi ampas teh tersebut tinggi, menghasilkan peningkatan produksi ternak sehingga peternak dapat meraup untung lebih cepat. Di sisi lain, kandungan nitrogen dalam feses sapi dan metan menurun—hal ini, ditambah pengurangan limbah ampas teh, dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan dampak pemanasan global. Penemuan ini jelas akan sangat bermanfaat dalam memenuhi swasembada daging 2012 tanpa merusak lingkungan. Impian Muhammad Noor yang juga adalah direktur Lembaga Bimbingan Belajar Sohib Smart, Semarang ini adalah mendirikan Pastea Farm, sebuah peternakan yang sehat dan ramah lingkungan—tentu dengan menggunakan ampas teh sebagai pakan sapi ternaknya.
Muhammad Arifullah Syafar
Masyarakat dunia pada saat ini sedang mengikuti tren mengurangi penggunaan kantung plastik sebab sifatnya yang sulit diurai menghasilkan limbah jutaan ton yang berbahaya bagi lingkungan, namun etap tak dapat dipungkiri bahwa pemanfaatan kantung nan praktis tersebut tak bisa sepenuhnya dihindari. Saat ini terdapat plastik ramah lingkungan dari gandum, kentang, dan sebagainya, tetapi Muhammad Arifullah Syafar mengajukan Pembuatan Plastik Ramah Lingkungan ( Biodegradable Plastic ) dari Pati Singkong ( Mahihot utilisma ) dengan Karagenan Sebagai Bahan Pengisi . Di dalam singkong terdapat pati yang dapat dipisah menjadi amilopektin berkadar tinggi, sebuah zat yang menghasilkan plastik bening. Bahan lainnya, yaitu karagenan, minyak goreng, dan gliserol, tak sulit didapat. Indonesia sendiri menghasilkan puluhan juta ton singkong sehingga bahan ini tak sulit ditemukan. Menurut juara beladiri Shorinji Kempo tingkat provinsi ini, cara pembuatan plastik tersebut mudah dan murah sehingga tak sulit dikembangkan menjadi bisnis. Dari makanan rakyat, menjadi bisnis rakyat. Kita pun tak lagi harus anti plastik ketika berbelanja. Dalam aliran darah Fullan mengalir ‘darah' Si Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin. Lahir di Jeneponto, Sulawesi Selatan pada tahun 1986. Pada tahun 1994, anak ke-5 dari 6 bersaudara ini pindah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) ditempuh di Kota Minyak ini. Jiwa Pioneer selalu menghiasi kehidupannya. Berbagai perlombaan telah diikutinya sejak pendidikan dasar hingga menginjak SMA bahkan sampai di Perguruan Tinggi Politeknik Negeri Malang-Jurusan Teknik Kimia (2008-sekarang). Keorganisasian menjadi daya tarik tersendiri bagi Fullah. Pada tahun 2010 ini saja ada empat organisasi yang diikutinya. Mulai menjadi Tim Trainer sampai menjadi Pemimpin Umum UKM Pers POLTEK. Ide proyek pembuatan plastik ramah lingkungan lahir dari rasa kepedulian Fullah terhadap lingkungan. Dukungan dari para dosen dan teman-teman kuliah menjadi penyemangatnya. Bumi yang hijau dan 'senyum' alam semesta menjadi impian mulia baginya.
Tedi Gumilar Ardi Sasmita
Youth & Green Business mungkin sudah lumrah, tetapi penggabungan Green Business dengan Water – Energy tidaklah biasa. Menurut kelompok maha teknik lingkungan ITB yang dipimpin Tedi Gumilar Ardi Sasmita , bisnis binatu di perkotaan maupun rumah tangga dapat menjadi ramah lingkungan dengan Menggunakan Air Hujan sebagai Alternatif Sumber Air dalam Proses Laundry serta Menggunakan Sistem Pengolahan Sederhana Air Hasil Cucian untuk Digunakan Kembali sebagai Sumber Air . Air hujan cukup ditampung dan dialirkan ke mesin cuci saat diperlukan, sementara air kotor hasil cucian dapat ditampung dan dibersihkan lewat proses elektrokoagulasi, sedimentasi, dan bahan-bahan yang sederhana. Air tersebut dapat digunakan kembali maksimal tiga kali, menghemat puluhan liter tiap harinya sekaligus mencegah pencemaran air buangan. Di samping mengatasi krisis air yang pelik di perkotaan, binatu juga dapat menghemat biaya. Jadi, dengan air sedikit, uang yang keluar pun lebih sedikit.
R. Zainal Fatah
Siapa sangka air laut dapat menghasilkan listrik untuk kapal? Tentunya, ini akan sangat bermanfaat bagi nelayan terutama di negeri bahari layaknya Indonesia. Proyek SWECELL (Sea Water Electro Chemical Cell): Pemanfataan Kandungan Elektrolit Air Laut Menjadi Sumber Energi Listrik Terbarukan dan Ramah Lingkungan sebagai Cadangan Energi Listrik Kapal Ikan yang dicetuskan oleh R Zainal Fatah dan tim maha jurusan Teknik Kimia dan Perkapalan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dapat mengurangi ketergantungan pada solar. Hasilnya, baik nelayan dan pemerintah dapat menghemat jutaan lebih rupiah akibat konsumsi minyak bumi. Sementara bagi lingkungan, inilah solusi yang dapat mengatasi krisis energi lewat teknologi yang mengurangi emisi karbon, tanpa menghasilkan karbon.
Shofarul Wustoni
Kepada alam ciptaan Yang Mahakuasa-lah kita patutnya mencari inspirasi—lihat saja buah: dagingnya adalah makanan dan kulitnya adalah kemasan yang sungguh canggih: seratnya dirancang kuat, melindungi, namun mudah diurai alam. Dari pemikiran ini, Shofarul Wustoni dari jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung meluncurkan proyek Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk sebagai Kemasan Makanan Alami . Jeruk yang lumrah ditemukan dan digemari—jika berhasil diolah menjadi bubur dan dicetak menjadi kemasan makanan—tidak hanya akan mengurangi limbah makanan tetapi juga mengurangi limbah kemasan kertas, plastik, dan Styrofoam yang berbahaya bagi lingkungan. Meski masih harus melalui banyak tahapan, maha yang mengantongi bea serta banyak dana riset ini berharap penelitiannya dapat mengubah masyarakat menjadi konsumen yang sehat dan peduli lingkungan. Toni sendiri dilahirkan di Kab. Bangkalan, pulau Madura, Jawa Timur. Dalam hidupnya Toni memiliki motto yaitu warnai Hidup kita dengan beribadah, berkarya dan berkontribusi dan cita – cita sebagai seorang Muslim Scientist . Proses pendidikan yang telah ia jalani dari SD hingga SMA berada di madura, sedangkan saat ini ia sedang menjalani masa kuliah di ITB tepatnya sebagai mahasiswa program studi kimia.
Yan Meditya Saptyadi Koestaman
Infrastruktur yang baik amatlah penting bagi Indonesia, namun jumlah kendaraan sayangnya tidak meningkat seiring dengan jumlah dan mutu jalan, di mana justru biaya rehabilitasinya melonjak sementara ketersediaan material menurun. Solusinya, menurut Yan M. S. Koestaman , adalah menggabungkan daur ulang ban bekas dengan aspal jalan yang sudah ada, lewat Penanganan Struktur Jalan Raya dengan Teknologi Daur Ulang Perkerasan ( Recycling ) yang Ramah Lingkungan, dalam Upaya Mengembalikan Kekuatan Perkerasan dan Mempertahankan Geometrik Jalan serta Mengatasi Ketergantungan akan Material Baru . Dengan mencampurkan serbuk karet yang didapatkan dari ban bekas dengan RAP (Reclaimed Asphal Pavement ) yaitu agregat hasil garukan jalan lama yang dicampur aspal dan semen, jalan yang rusak dapat diperkeras kembali tanpa harus ditinggikan. Selain efektif waktu, energi, dan biaya, keuntungannya adalah dapat menghemat 45-95% material sekaligus mengurangi eksplorasi sumber daya alam. Menggunakan limbah karet (dari ban) dan aspal, juga mengatasi ketergantungan materi, proyek ini sangat ramah lingkungan. Dari penjelasan Yan Koestaman yang pernah menjadi finalis Kompetisi Beton Ramah Lingkungan, proyek ini ternyata telah mulai diujikan di Jalan Pantura dan berpotensi direplikasi di berbagai jalan di Indonesia. Yan menyukai olahraga badminton, membaca dan organisasi, sehingga dijadikan hobby. Sejak dari SD hingga SMA ia cukup aktif berorganisasi. Semasa SMA ia menjadi Pradana Pramuka, Ketua OSIS dan Kabid di Rohis SMA, ia dikenal orang yag super sibuk baik dari kegiatan di sekolah ataupun di luar sekolah, sehari-harinya diisi kegiatan dan mencari uang juga untuk biaya sehari-harinya dari mengajar di SD Swasta, Menjaga Apotek, ataupun sekedar bisnis kecil-kecilan di sekolah. Semasa SMA ia berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya, dibuktikan sebagai peringkat pertama paralel sebagai lulusan terbaik di SMA dan sebagai siswa teladan peringkat 3 se-Kota Bekasi. |